Sabtu, 11 November 2017

MANAJEMEN PROYEK DAN RESIKO



Bab 1 :            Konsep dan Pengertian

            Dalam bab ini diberi tahapan dalam Pembuatan Jalan Tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta ­Bandung yang memper singkat waktu tempuh kedua kota itu dilakukan dengan menggunakan cara pengelolaan pekerjaan yang berbeda dengan pengelolaan pekerjaan-pekerjaan regular.
a.    Definisi Proyek
Proyek didefinisi kan sebagai sebuah rangkaian aktifitas unik yang saling terkait untuk mencapai suatu hasil tertentu dan dilakukan dalam periode waktu tertentu pula (Chaseet al., 1998).
b.    Definisi Manajemen Proyek
Manajemen proyek adalah aplikasi pengetahuan (knowledges), Keterampilan (skills), alat (tools) dan teknik (techniques) dalam aktifitas ­ aktifitas proyek untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan proyek (PMBOK, 2004). Manajemen proyek dilaksanakan melalui aplikasi dan integrasi tahapan proses manajeman proyek yaitu initiating, planning, executing, monitoring dan controlling serta akhirnya closing keseluruhan proses proyek tersebut.
c.    Macam – macam Proyek
1.    Proyek Konstruksi Proyek ini biasanya berupa pekerjaan membangun atau membuat produk fisik. Sebagai contoh adalah proyek pembangunan jalan raya, jembatan atau pembuatan boiler.
2.    Proyek Penelitian dan Pengembangan Proyek ini bisa berupa penemuan produk baru, temuan alat baru, atau penelitian mengenai ditemukannya bibit unggul untuk suatu tanaman. Proyek ini bisa muncul dilembaga komersial maupun pemerintah. Setelah suatu produk baru ditemukan atau dibuat biasanya akan disusul pembuatan secara massal untuk dikomersialisasi kan.
3.    Proyek yang berhubungan dengan manajemen jasa Proyek ini sering muncul dalam perusahaan maupun instansi pemerintah.
d.    Timbulnya lde Proyek
Proyek bisa dilihat dari cara munculnya ide proyek. Cara munculnya ide ini akan membawa pengaruh bagaimana suatu pe kerjaan proyek bisa didapat kan oleh suatu perusahaan
e.    Keberhasilan Manajemen Proyek
Manajemen Proyek dianggap sukses jika bisa mencapai tujuan yang diinginkan dengan memenuhi syarat berikut :
• Dalam waktu yang dial okasikan
• Dalam biaya yang dianggarkan
• Pada per formansi atau spesi fikasi yang ditentukan
• Diterima kust omer
• Dengan pe rubahan lingkup pekerjaan minimum yang disetujui
• Tanpa mengganggu aliran pekerjaan utama organisasi
• Tanpa merubah budaya (p ositi f) perusahaan

f.     Driving Force Timbulnya Manajemen Proyek
Driving force dalam hal ini adalah hal-hal yang memicu atau mendorong sehingga manajemen proyek muncul dan diperlukan. Yang masuk dalam driving force ini antara lain:
1.    Proyek Kapital, di mana organisasi menangani proyek-proyek yang butuh banyak modal dalam waktu yang sama. Dalam situasi seperti itu diperlukan manajemen proyek.
2.    Harapan kustomer, Perusahaan yang menjual produk dan jasa termasuk instalasi kepada klien, mereka harus mempraktikkan manajemen proyek yang baik.
3.    Kompetitifness, Ada situasi di mana kompetitifness menjadi driving force yaitu adanya proyek internal dan proyek eksternal. Secara internal, perusahaan akan menemui masalah jika organisasi menyadari bahwa banyak pekerjaan bisa diberikan ke pihak lain (outsource) daripada mengerjakan sendiri dengan ongkos lebih mahal.


Bab 2 :            Siklus Hidup Proyek

            Di dalam bab ini diberikan tahap tahapan dalam hal perkembangan produk. Tahap tahapan tersebut yaitu, Perkembangan produk biasanya diawali dengan riset dan pengembangan (R &D), dilanjutkan dengan pembuatan desain, pengenalan ke pasar, pertumbuhan, matang, penurunan sampai pr duk tersebut mencapai tahap mati dan tidak diproduksi lagi. Di dalam setiap tahapan dijelaskan lebih rinci dan berisi gambar agar pembaca cepat memahami. Jika disimpulkan seperti ini :

 a.  Riset dan Pengembangan (R&D)
  Dimana pada tahap ini sebuah produk yang akan dipasarkan, terlebih dahulu menentukan model dan desain pembuatan produk.
b.  Pengenalan Pasar.
   Dimana pada tahap ini produk siap dipasarkan, dan kita dapat melihat bagaimana tanggapan masyarakat terhadap produk yang kita pasarkan.
c.  Tumbuh
  Dimana adanya peningkatan terhadap minat masyarakat tentang produk yang dipasarkan.
d. Matang
     Dimana pada tahap ini pemasaran produk sudah mencapai batas maksimal maka dari itu perusahaan tinggal menjaga batas pemasaran produk ini agar dapat berlangsung lama, karena sudah tidak bisa penambahan produk tersebut.
e. Penurunan
      Tahap dimana masa pemasaran sebuah produk menurun.
f. Mati
     Yaitu, dimana sebuah pemasaran produk mencapai tahapan akhir, karena tidak adalagi minat masyarakat terhadap produk tersebut dan produk tersebut sudah tidak dipasarkan kembali.
   

Bab 3 :            Organisasi proyek

      Pada bab organisasi proyek penulis membagi dalam 5 penjelasan, yaitu pendahuluan, proyek sebagai bagian dari organisasi fungsional dan bentuk organisasi proyek. Pada pendahuluan, penulis mengemukakan beberapa dasar penyusunan struktur organisasi, yaitu berdasarkan: produk; lokasi; proses; pelanggan dan; fungsi.

     Pada proyek sebagai bagian dari organisasi fungsional, penulis menjabarkan struktur organisasi fungsional dengan menggunakan diagram. Struktur organisasi fungsional tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga pembaca dapat mengetahui dan mengantisipasi kekurangan yang ada. Setelah mengetahui kelebihan dan kekurangannya, penulis menjelaskan jenis-jenis pemimpin dari proyek mulai dari project expeditor dan koordinator proyek. 

    Selain organisasi fungsional, bentuk-bentuk dari organisasi proyek adalah organisasi proyek murni dan matriks. Penulis menjelaskan kedua bentuk tersebut dengan menyisipkan diagram dan memberikan kelebihan dan kekurangan sehingga pembaca dapat memakai bentuk organisasi sesuai dengan kebutuhan. Pembaca dapat menentukan bentuk organisasi proyek berdasarkan kriteria-kriteria yang mendasari pemilihannya.


Bab 5:             Perencanaan Proyek
            Pada bab 5 ini proyek penulis membagi dalam 6 penjelasan, yaitu Pendahuluan, proyek sebagai bagian dari organisasi fungsional dan bentuk organisasi proyek. Pada pendahuluan, penulis mengemukakan beberapa dasar penyusunan struktur organisasi, yaitu berdasarkan keefisiensian operasi proyek itu sendiri.
            Dan pada proyek sebagian dari organisasi funsional, penulis ini menuliskan tahap-tahapan perencanaan  proyek, membuat jadwal dan anggaran kepada tim proyek. Dan si penulis memberikan langkah-langkah perencanaannya, didalam penulisan ini ada bentuk bagan yang menentukan tugas dan konstruksi set-up pabrik..
            Ada lagi selain organisasi pada proyek yaitu pendefinisian pekerjaan yang bertujuan proyek-proyek ini perlu diterjemahkan secara lebih operasional, sehingga para pembaca dapat memahami tulisan ini dan dapat mengetahui definisi pekerjaan, dan tingkat-tingkat deskripsi yang bisa dilihat pada table atau bagan di penulisan ini.



Bab 6:             Penjadwalan Proyek
            Didalam bab 6 ini penulis membagi menjadi 3 bagian yaitu, pendahuluan yang berisikan proyek yang dapat dipecah-pecah dan menjadi paket-paket pekerjaan itu sendiri, didalam penulisan ini diberitahu bahwa proyek sebagai bagian dari organisasi fungsional dan bentuk organisasi proyek. Pada pendahuluan, penulis mengemukakan beberapa dasar penyusunan struktur organisasi,
            Didalam pembagian Diagram Perencanaan dan Penjadwalan yang pertama dikembangkan adalah Gantt Charts Nama ini mengacu pada penemunya Henry L. Gantt, seorang konsultan manajemen terkenal. Penulis juga memberikan pengetahuan bahwa Gantt ini adalah seorang konsultan manajemen yang hebat dan terkenal.
            Selain konsultan terkenal, penulis juga memberikan beberapa rumus yang digunakan untuk menjalankan projek proyek ini.Yang dinamakan PERT atau Project Evaluation and Review Technique, Metode ini pertama kali digunakan dalam proyek Sistem Rudal Polaris di Angkatan Laut Amerika Serikat. Proyek ini penuh ketidakpastian dalam hal waktu kegiatan. PERT adalah salah satu metode yang menggunakan jaringan kerja (network), di samping CPM (Critical Path Method). Untuk menentukan atau menjadwalkan waktu yang lebih optimal.

Bab 9:             Pengendalian Proyek
            Pada bab ini penulis memberikan beberapa bagian, yang pertama pendahulian dan berisikan Tahap manajemen yang berikutnya setelah pelaksanaan proyek adalah pengendalian. Ini berarti di dalam pelaksanaan proyek, sebelum proyek selesai, sudah ada proses pengendalian. Ditulis disini ada beberapa perbedaan antara pengendalian dan perencanaan. Supaya para pembaca dapat membedakan keduanya.
            Kemudian ada langkah-langkah dalam pengendalian yang berisikan menentukan standar performansi, membandingkan antara performansi aktual dan performansi standar hasil pekerjaan dan pengeluaran yang sudah terjadi dibandingkan dengan jadwal, biaya dan spesifikasi performansi yang direncanakan. Dan melakukan koreksi bila performansi aktual secara signifikan menyimpang dari yang direncanakan tindakan koreksi perlu dilakukan.
            Ada juga dalam pembiayaan biaya tradisional, diberikan otoritas pekerjaan yang dimana suatu pekerjaan akan muncul dari pihak manajemen tingkat atas. Kemudian teknik pengumpulan data Perintah kerja (work order) dan rekening biaya yang bersangkutan adalah bagian penting dalam rangka proses pengendalian. Perkembang­an pekerjaan dan biayanya untuk setiap paket kerja secara periodik dimasukkan ke dalam PCAS untuk kemudian diringkas dan dihitung untuk keseluruhan paket kerja dan departemen.

Bab 12           : Mengelola Konflik dalam Proyek
            Sebagian besar orang yang pernah aktif dalam organisasi akan setuju pada satu hal bahwa yang paling sulit adalah mengatur orang, kemudian munculah konflik didalam suatu organisasi adanya perbedaan opini, tujuan dan nilai yang dianut seringkali akan memicu terjadinya konflik, apalagi untuk organisasi proyek yang sering dibentuk jika ada proyek baru.
Konflik yang ada dalam Organisasi Proyek Di dalam organisasi sendiri sangat besar peluang untuk terjadinya konflik.. Prioritas pekerjaan, jadwal dan alokasi sumberdaya adalah sumber-sumber potensial terjadinya konflik dalam organisasi proyek, Para manajer fungsional kadang-kadang menghalangi dibutuhkannya orang di bawahnya untuk dipekerjakan di proyek.
Tapi disisi lain konflik pasti ada manfaat konflik pada organisasi, Konflik yang dikelola secara benar bisa membawa dampak positif bagi organisasi maupun individu dalam organisasi. Dampak-dampak positif yang bisa muncul antara lain:
1. Bisa menghasilkan ide-ide baru yang lebih baik
2. Memacu orang untuk mencari dan menemukan pendekatan­pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah
3. Memunculkan masalah lama ke permukaan dan kesepakatan
tentang adanya masalah tersebut
4. Memacu orang untuk menjelaskan pandangannya
5. Menyebabkan tekanan yang akan menstimulasi perhatian dan
kreativitas seseorang
6. Memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menguji kapasitas
Kemampuannya



Bab 13:          Manajemen Risiko Proyek
            Manajemen Risiko pada proyek meliputi langkah memahami & mengidentifikasi masalah potensial yang mungkin terjadi, mengevaluasi bagaimana risiko ini mempengaruhi keberhasilan proyek, monitoring dan penanganan risiko. Manajemen Risiko yang proaktif akan mengurangi jumlah masalah, memperbaiki keberhasilan pelaksanaan proyek.
Dalam bab ini kita akan membahas subtopik berikut:
1. Risiko
2. Definisi Manajemen Risiko
3. Toleransi Terhadap Risiko
4. Proses Manajemen Risiko
            Risiko ini sendiri merupakan kombinasi dari probabilitas suatu kejadian dan konsekuensi dari kejadian tersebut, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa ada lebih dari satu konsekuensi untuk satu kejadian, dan konsekuensi bisa merupakan hal yang positif maupun negatif. Namun risiko pada umumnya dipandang sebagai sesuatu yang negatif, seperti kehilangan, bahaya, dan konsekuensi lainnya.
            Definisi Manajemen Risiko proyek (project risk) adalah suatu peristiwa (event) atau kondisi yang tidak pasti (uncertaint), jika terjadi mempunyai pengaruh positif maupun negatif pada tujuan proyek. Suatu risiko mempunyai penyebab, dan jika terjadi, membawa konsekuensi a tau impak. Dalam manejemen ada Proses Manajemen Risiko.
Proses yang dilalui dalam manajemen risiko adalah
1. Perencanaan manajemen Risiko
2. Identifikasi Risiko
3. Analaisis risiko Kualitatif
4. Analisis risiko kuantitatif
5. Perencanaan respon risiko
6. Pengendalian dan monitoring risiko
            Identifikasi risiko cara mengelola risiko adalah identifikasi risiko potensial. Risiko adalah event yang jika dipicu akan menyebabkan masalah. Dan ada beberapa cara untuk mengidentifikasi risiko:
1.    Brainstroming
2.    Interviewing
3.    Delphi Technique
4.    Checklist

Senin, 30 Oktober 2017

Penjelasan Program Verilog


 Encoder

// Design Name : encoder_using_if
// File Name   : encoder_using_if.v
// Function    : Encoder using If
// Coder       : Deepak Kumar Tala
=> Dia berfungsi sebagai menjadi hanya sebuah kolom komentar pada program encoder_using_if.
module encoder_using_if(
binary_out , //  4 bit binary output
encoder_in , //  16-bit input
enable       //  Enable for the encoder
);
=> membuat module dengan nama encoder_using_if, dan didalamnya terdapat variable binary_out 4 bit sebagai output, encoder_in 16 bit sebagai input, dan enable sebagai input.
//-----------Output Ports---------------
output [3:0] binary_out  ;
=> Mendeklarasikan sebuah port output dari binary_out yang keluaranya menjadi 4bit.
//-----------Input Ports---------------
input  enable ;
input [15:0] encoder_in ;
=> Mendeklarasikan sebuah variable masukkan yaitu enable dan encoder_in dengan encoder_in menjadi 16bit masukkan.
//------------Internal Variables--------
reg [3:0] binary_out ;
=> Mendeklarasikann sebuah register yang terdapat pada binary_out dengan alamat 4 bit.
//-------------Code Start-----------------
always @ (enable or encoder_in)
=> Berfungsi sebagai program yang dimana memerlukan clock terus untuk mengantarkan nilai masukkan. Kemudian variable enable digabungkan dengan variable encoder_in.
  begin
    binary_out = 0;
    if (enable) begin
      if (encoder_in == 16'h0002) begin
       binary_out = 1;
      end  if (encoder_in == 16'h0004) begin
       binary_out = 2;
      end  if (encoder_in == 16'h0008) begin
       binary_out = 3;
      end  if (encoder_in == 16'h0010) begin
       binary_out = 4;
      end  if (encoder_in == 16'h0020) begin
       binary_out = 5;
      end  if (encoder_in == 16'h0040) begin
       binary_out = 6;
      end  if (encoder_in == 16'h0080) begin
       binary_out = 7;
      end  if (encoder_in == 16'h0100) begin
       binary_out = 8;
      end  if (encoder_in == 16'h0200) begin
       binary_out = 9;
      end if (encoder_in == 16'h0400) begin
       binary_out = 10;
      end  if (encoder_in == 16'h0800) begin
       binary_out = 11;
      end  if (encoder_in == 16'h1000) begin
       binary_out = 12;
      end  if (encoder_in == 16'h2000) begin
       binary_out = 13;
      end  if (encoder_in == 16'h4000) begin
       binary_out = 14;
      end if (encoder_in == 16'h8000) begin
       binary_out = 15;
==> Fungsi script diatas adalah terdapat kondisi awal dimana binary_out=0, lalu jika enable maka dia akan lenjut ke state berikutnya yaitu encoder_in==16'h0002) dimana nilai bianry_out yang keluar adalah 1, lalu jika encoder_in==16'h0004) maka nilai binary_out yang keluar adalah, begitu pun seterusnya hinga semua kondisi terpenuhi hingga  nilai binary_out menghasilkan angka 15. ini sama saja seperti kita memainkan sebuah switch secara berurut hingga menghasilkan sebuah nyala led berurut sesuai yang kita masukan kode binnernya dalam bentuk hexa.
    end
end
end   
endmodule
=> Berfungsi untuk mengakhiri sebuah statement yang dibuat dan endmodule adalah untuk mengakhiri sebuah program pada module yang telah dibuat tadi.

MUX(Multiplekser)



//Design Name : mux_using_if
//File Name : mov_using_if.v
//Function :  2:1 mux using if
//Coder : Deepak Kumar Tala
=> Berfungsi sebagai komentar dalam membuat program mux_using_if.
module mux_using_if(
din_0           ,         //  mux first input
din_1                     ,          // mux second input
sel               ,         // select input
mux_out                         // mux output
);
=>Berfungsi untuk membuat sebuah module dengan nama file mux_using_if dan didalamnya terdapat 4 variable yaitu di_0, din_1, dan select sebagai input dan mux_out sebagai outputnya.
//---------- input ports ---------
input  din_0, din_1,  sel;
=> Mendeklarasikan sebuah port input yaitu  din_0, din_1,  sel  pada program.
//---------- output ports ---------
Output  mux_out ;
=> Mendeklarasikan sebuah port output yaitu mux_out.
//---------- internal variables ---------
reg  mux_out ;
=> Mendeklarasikan sebuah register dengan variable mux_out.
//---------- Code Start Here ---------
Always  @  ( sel or din_0 or din_1)
=> Harus memerlukan clock secara terus-menerus karena clock berfungsi untuk menghantarkan nilai masukkan pin-pin keluaran. Kemudian variable sel digabungkan dengan variable masukkan lainnya yaitu din_0 dan din_1.
Begin : mux
=> Berfungsi untuk memulai subprogram mux.
If (sel == 1’b0) begin
          Mux_out  =  din_0);
End else begin
          Mux_out  = din_1);
=> Berfungsi jika variable sel == 1 maka hasil keluaranya adalah mux_out yaitu din_0 jika tidak maka dia akan ke end else yaitu keluaran din_!.
End
End
Endmodule  //End Of Module mux
=> Berfungsi sebagai akhir dari isi statment dan juga akhir dari sebuah program module yang telah dibuat tadi.


Flip-Flop And Latches



//Design Name : dff_async_reset
//File Name : dff_async_reset.v
//Function :  D Flip Flop async reset
//Coder : Deepak Kumar Tala
=> Berfungsi hanya sebagai komentar saja dalam membuat program async reset D-FF.
module dff_async_reset(
data             ,         //  data input
clk               ,          // clock input
reset            ,         // reset input
q                           // q output
);
=> Berfungsi untuk membuat sebuah module dengan nama file dff_async_reset dan didalamnya terdapat 4 variable yaitu data,clk,dan reset sebagai input dan q sebagai outputnya.
//---------- input ports ---------
input  data, clk,  reset;
=> Mendeklarasikan sebuah port input yaitu  data, clock, dan reset pada program.
//---------- output ports ---------
Output  q ;
=> Mendeklarasikan sebuah port output yaitu q.
//---------- internal variables ---------
reg  q ;
=> Mendeklarasikan sebuah register pada variable q.
//---------- Code Start Here ---------
Always  @  (posedge clk or negedge reset)
=> Berfungsi sebagai dff ini yang sangat  memerlukan clock secara terus-menerus untuk menghantarkan nilai masukkan pin-pin keluaran. posedge clk or nededge reset yang merupakan gabungan clock yang aktif pada sisi naik positif sedangkan nededge adalah sisi clock yang aktif dari sisi turun-negatif dan menghasilkan sebuah kondisi reset yang ada pada dff itu sendiri.
If (~reset) begin
          Q <= 1’b0;
End else begin
          Q <= data;
=> Berfungsi jika ada negasi dari variable reset maka mulai ke program selnajutnya yaitu 1<=1'bo jika tidak atau terpenuhi maka program lanjut ke q<=data.
End
=> Berfungsi untuk mengakhiri sebuah statment.
Endmodule  //End Of Module dff_aync_reset
=> Berfungai untuk mengakhiri sebuah program module.


Minggu, 08 Oktober 2017

Review Komparasi Metode Machine Learning dan Non Machine Learning untuk Estimasi Usaha Perangkat Lunak.



TUGAS REVIEW JURNAL





















Nama                   : Langgeng Pambudhy
Kelas                   : 3KB07
NPM                   : 23115781
Judul                   : Komparasi Metode Machine Learning dan Non Machine  Learning untuk Estimasi Usaha Perangkat Lunak.




Review Jurnal: Komparasi Metode Machine Learning dan Non Machine Learning untuk Estimasi Usaha Perangkat Lunak.

Identitas
Judul                : Komparasi Metode Machine Learning dan Non Machine Learning untuk Estimasi Usaha Perangkat Lunak.
Penulis               : Ega Kartika Adhitya, Romi Satria Wahono dan Hendro Subagyo
Tahun                 : December 2015
Halaman             : 109-113


PENDAHULUAN
Dalam pendahuluan dijelaskan latar belakang penulisan jurnal ini. Dapat di lihat bahwa jurnal ini mengungkit bahasan tentang perangkat lunak, karena jika tidak ada perangkat lunak maka tidak dapat menjalankan perangkat keras yang ada. Untuk estimasi pengembangan perankga lunak dibagi menjadi dua metode, yaitu. Metode Non Machine Learning yang merupakan metode konvesinal dengan tingkat keakuratan rendah dan metode Matching Learning yang tealah digunakan untuk pengembangan perangkat lunak.

Proyek perangkat lunak bersifat dinamis sehingga sulit untuk menemukan metode estimasi yang cocok untuk proyek perangkat lunak misalnya, kinerja yang lebih baik dapat dicapai dengan menghilangkan beberapa atribut, yang dengan ini dapat menghilangkan atribut yang tidak relevan dimana hal ini dapat meningkatkan akurasi estimasi. Untuk meningkatkan akurasi diperlukan algoritma seleksi atribut. Yang dibagi 2 tipe yaitu filter dan wrappting namun        Hasil precision dari tipe wrapper lebih tinggi daripada tipe filter

TUJUAN
Tujuan jurnal ini untuk menseleksi fitur, baru-baru ini digunakan di bidang rekayasa perangkat lunak untuk meningkatkan akurasi, model biaya perangkat lunak. Ide di balik memilih subset paling informatif fitur yang tersedia berasal dari hipotesis bahwa mengurangi dimensi dataset secara signifikan akan mengurangi kompleksitas dan waktu yang diperlukan untuk mencapai perkiraan menggunakan teknik pemodelan tertentu. 

METODE PENELITIAN
1. Model dan variabel penelitian. Variabel yang digunakan yaitu variabel eksogen (variabel bebas), intervening (variabel antara) dan variabel endogen (variabel terikat).
2. Metode Pengukuran. Pada metode pengukuranyang digunagkan yaitu dengan memberikan pertanyaan (kuesioner) kepada para sampel.
3. Metode Analisis. Metode ini yaitu metode dengan menitikberatkan kuantitatif (perhitungan) maka hasil yang didapatkan berupa angka.





HASIL DAN PEMBAHASAN
K-NN mempunyai nilai RSME yang paling baik, dengan nilai RMSE 6.2 untuk dataset Albercth dan 9.4 untuk dataset Desherhanis. NN menghasilkan RMSE 11.7 poin untuk dataset Albercth dan 10.8 untuk dataset Desherhanis . SVM menghasilkan RMSE 11.1 untuk dataset Albercth dan 11 untuk dataset Desherhanis. Dari hasil tersebut, maka dapat kita simpulkan kNN merupakan metode machine learning yang baik.


Gambar ini dapat ketahui bahwa FP mempunyai nilai RSME yang paling baik, dengan nilai RMSE 4.6 poin untuk dataset Albercth dan 21.3 poin untuk dataset Desherhanis. UCP menghasilkan RMSE 8.8 poin untuk dataset Albercth dan 64.3 poin untuk dataset Desherhanis. Dari hasil tersebut, maka dapat kita simpulkan FP merupakan metode non-machine learning yang baik. Gambar ini merupakan grafik komparasi RMSE metode non- machine learning 
 

Perbandingan Hasil Metode Machine Learning dan Non-Machine Learning

pada penelitian ketiga ini dikomparasikan antara kNN dan FP dan menghasilkan kNN sebagai metode terbaik untuk estimasi perangkat lunak. Gambar 4 merupakan hasil komparasi metode machine learning dan non machine learning terbaik untuk estimasi perangkat lunak

 
kNN untuk dua dataset baik dataset Albercth dan dataset Deshernanis, algoritma seleksi atribut FS mendapatkan hasil yang paling baik untuk digunakan pada estimasi usaha perangkat lunak.




KESIMPULAN
SVM didapatkan kNN dengan hasil terbaik dengan nilai RMSE yang paling baik, dengan nilai RMSE 6.2 untuk dataset Albercth dan 9.4 untuk dataset Desherhanis. Hasil dari metode non ML antara FP dan UCP didapatkan FP mempunyai nilai RSME yang paling baik, dengan nilai RMSE 4.6 untuk dataset Albercth dan 21.3 untuk dataset Desherhanis. Dapat disimpulkan hasil dari komparasi antara kNN dan FP dan menghasilkan kNN sebagai metode terbaik untuk estimasi perangkat lunak.
Seleksi atribut FS mendapatkan hasil yang terbaik. Dengan menggunakan kNN untuk dua dataset baik dataset Albercth dan dataset Deshernanis, algoritma Seleksi Atribut FS mendapatkan hasil yang paling baik untuk digunakan pada estimasi usaha perangkat lunak.menghasilkan kNN dengan Seleksi Atribut FS sebagai metode terbaik untuk estimasi perangkat lunak.

DAFTAR PUSTAKA